Jadi inget cerita tentang mbah Zah yang jauh - jauh ke Lampung hanya ingin mendoakan cucunya yang kebetulan diberi amanah menjadi bupati disana.
Tante Ning Selly pun bercerita pernah mbah Zah sedang ada di Jakarta untuk sebuah urusan dengan ibu Khofifah. Nah ternyata besoknya ada sebuah undangan di Malang dan asisten Mbah Zah benar benar lupa. Baru ingat karena sang empu acara telpon sang asisten mengingatkan jadwal acara di Malang.
Apa yang mbah Zah lakukan?beliau pun langsung berangkat ke malang. Bayangkanlah Jakarta - Malang dilaju dengan Mobil. Tapi sebelumnya, beliai mampir ke rumah di lasem untuk bersih bersih dan melanjutkan perjalanan le Malang. Usai acara selesai beliau kembali ke Jakarta.
Subhanallah...begitu banyak cerita beliau tentang silaturahmi. Betapa menjadi ahli silaturahmi adalah sesuatu yang gampang tapi sulit bagi mereka yang memang tidak ada niat.
Padahal salah satu keutamaan silaturahmi adalah melancarkan rejeki dan juga sebagai tolak bala.
Duh rasanya pengin keplak diri sendiri. Ga usah jauh jauh silaturahmi ke luar kota. Ke saudara sendiri yang cuman naik motor 10 menit pun kudu nunggu sama pak suami. Luangkan waktu minimal satu hari dalam seminggu untuk anjang sana bertemu saudara atau teman lama bisa memperkuat rasa persaudaraan.
Salah satu sifat Mbah Zah yang sudah dikenal oleh para santri adalah sifat loman. Kalau bahasa Indonesia artinya ringan tangan suka bantu bantu. Menurut cerita Ning Selly " Mbah Zah iku rak iso ndelok cah cilik mesti dikei arto atau jajan. Rak kudu putu ne tapi anake tamu sing teko mesti di kei oleh oleh"
Yang artinya "Mbah Zah ga bisa liat anak kecil pasti di kasih uang atau jajan. Bukan cuman cucunya tapi anak kecil siapapun yang beliau lihat".
Pernah suatu ketika saat dalam perjalanan berhenti di sebuah perempatan dan melihat anak - anak dan beliau membagikan permen atau jajan.
Atau saat melihat orang sepuh yang sedang berjualan biasanya beliau berhenti dan memborong jualanya.
Subhanallah..
Saya pernah memdengar ceramah ustadzah Halimah Alaydrus bagaimana para kekasih Allah melihat manusia bukan lagi sebagai fulanah tapi sebagai Hamba Allah. Dan akhirnya saya mendengar cerita tentang kekasih Allah mbah Azizah Ma'shoem yang melihat manusia bukan lagi sebagai Fulan atau Fulanah tapi sebagai Hamba Allah.
Ninh Selly bercerita bahwa mbah Zah memiliki hati yang benar benar Loman atau lembut kasih sayang. Sering ada orang yang datang mengemis ke rumah mbah Zah. Bukan lagi meminta uang puluhan ribu. Tapi malah minta uang 2 juta. Dan Subhanallah mbah Zah dengan ringan tangan memberikan uang tersebut. Saat para ndalem yang mengurusnya protes beliau dengan santai menjawab
"Ora popo menowo dadi dalanku maring surga"
Ya Allah...padahal kita mah eh saya maksudnya tahu kalau ada pengemis yang di kasih 1000 misuh misuh aja suka jengkel. Atau modus lain yang kekurangan bekal di jalan dan minta berapa puluh ribu aja kadang suka mikir seribu kali.
Mungkin itulah yang membedakan Iman orang awam dengan dengan para Auliya. Bukan lagi dunia yang mereka pikirkan tapi akhirat lah tempat berpulang sejati.

semoga bisa mengikuti kebiasaan beliau aamiin :)
BalasHapus